Fenny Ferawati

Wednesday, December 19, 2018

Pengalaman Lepas KB Susuk Atau Implan

December 19, 2018 1
Pengalaman Lepas KB Susuk Atau Implan

“Assalamualaikum, mau bongkar susuk mbak.” lapor saya ke bagian pendaftaran sembari menunduk di depan lubang kaca kecil.

 “Baik mbak, ditunggu dulu ya.”

Meski sempat bingung karena tidak ditanya identitas apapun, saya memilih diam dan beranjak ke kursi sebelum akhirnya belok ke bagian kantin karena Sita sudah heboh melihat teh kemasan di showcase minuman dingin.

Usai memberikan teh pada Sita, seorang perawat atau bidan (karena tidak ada tanda pengenal) memanggil dan menggiring saya untuk rebahan di tempat eksekusi, hmmm…. semacam ranjang dengan alas terpal hitam dan bantal dengan sarung setipe alas ranjang tanpa sekat. Sebenarnya ada tirai namun nampaknya belum ada tanda-tanda ditutup. Jadilah saya terbaring dimana orang yang lalu lalang dibagian pendaftaran bisa menonton saya dengan jelas.

Tenaga medis yang masih muda meraba-raba lengan atas saya setelah ia melakukan cek tekanan darah. Seperti biasa, saya termasuk golongan darah rendah hati dengan tensi 100/60. Saya lalu menunjukkan bekas pemasangan susuk karena terlihat tenaga medis tersebut lama sekali menggerayangi tubuh saya.

“Ooo, dipasang bentuk V.” ujarnya. “Pasang dimana mbak?”

Saya kembali menunjuk keloid kecil di lengan bekas lubang pemasangan susuk sembari menjawab, “Disini mbak.”

Kening tenaga medis itu berkerut, “Maksudnya pasang susuk dimana?”. Saya terkekeh, “Disini juga mbak”.

Ia pun mengangguk-angguk sembari menyiapkan peralatan untuk membongkar susuk. Bukan susuk seperti yang biasa diceritakan di mitos-mitos jawa. Saya sudah merasa cukup menarik jika tidak cukup dibilang cantik untuk memikat lawan jenis tanpa ajian apapun. Susuk yang saya maksud kali ini adalah implant. Salah satu jenis kontrasepsi yang akhirnya saya pakai atas hasil negosisasi. Saya katakan hasil negosisasi karena sebenarnya diawal saya tidak mau menggunakan alat kontrasepsi. Saya lebih suka kalau pihak suami yang KB. Entah itu dengan cara menuntaskan diluar atau dengan memakai kondom.

Pilihan susuk KB pun setelah mencoba beragam alat kontrasepsi untuk perempuan. Mulai dari pil KB, suntuk, sampai spiral pernah saya coba sebelumnya. Sayangnya tidak ada yang cocok. Susuk KB menjadi opsi terakhir yang menurut saya aman dan Alhamdulilah berhasil terpasang. Di lain waktu, saya akan membahas beragam alat kontrasepsi tersebut di postingan yang berbeda. 

Sensasi dingin sudah mulai saya rasakan di bagian lengan atas kiri. “Disuntik dulu ya mbak?’ ijin tenaga medis muda yang menangani saya. Tak lama kemudian, saya sudah merasakan kebas di bagian lengan yang disuntik. Seorang tenaga medis lainnya yang lebih senior memastikan efek bius lokal  sudah bereaksi sebelum mereka berdua beraksi. Rupanya saya ditangani dua orang untuk proses bongkar susuk KB.

Saya masih bisa mendengar percakapan para tenaga medis, bahkan sesekali menjawab pertanyaan mereka. Awalnya mereka berdua mengindentifikasi letak susuk KB.

“Dua ya mbak?”, saya mengangguk. Saya ingat betul ketika waktu pemasangan susuk KB, saya diberi tahu oleh tenaga medis yang menangani. Saya pun bisa merasakan keduanya ketika diraba karena sangat terasa dan mudah dicari. Terlebih ada tanda keloid di bagian bekas luka pemasangan.

Kedua tenaga medis itu mulai berdiskusi tentang letak sayatan awal supaya bisa mengambil kedua batang susuk. Saya yang tidak berani melihat proses eksekusi memilih memalingkan muka. Pembicaraan mereka berdua membuat saya berasumsi bahwa lengan saya akan disayat lebar. Sesekali terlihat alat seperti gunting yang berkelebatan dalam pandangan. 

Beberapa lama berlalu, mereka berdua mulai gusar karena tak kunjung menemukan letak pasti si susuk. “Hati-hati, jangan sampai kita salah. Nanti bukan susuk yang kita tarik.” Jantung saya mulai berdegup agak kencang mendengarnya. Ternyata, ada resiko bongkar susuk KB yang lumayan besar. Saya mulai banyak-banyak istighfar.

Lamanya waktu mereka berdua mengeksekusi membuat seorang tenaga medis lainnya, yang saya kira hanya pasien karena menggunakan pakaian biasa, ikut nimbrung.

“Kenapa tidak disini?” ujarnya sambil membentuk garis di lengan. “Nanti jadi di tengah-tengah dong mbak, nanti batang susuk KB bisa putus kalau ditarik dari situ”, jawab si tenaga medis muda dengan mantap.

“Biasanya begitu model sayatannya kalau kasus pemasangannya bentuk V begini.”

Si tenaga medis nampak meluruskan punggungnya, “Pantas saja kalau di klinik A susuk KB dipasang sejajar, khan lebih mudah daripada begini.”

“Pasang dimana mbak?”, tenaga medis yang lebih tua bertanya pada saya. 

“Disini mbak”, saya menjawab sama seperti sebelumnya.

“Safari ya?”

Saya menjawab tidak sambil mengerutkan dahi. Safari adalah layanan KB gratis yang dilakukan oleh sebuah klinik kesehatan yang bekerja sama dengan bidan desa. Biasanya bidan desa memberi tahu ketika posyandu atau ketika berobat di klinik desa. Beberapa waktu sebelumnya saya juga sempat mendapatkan tawaran untuk gratis biaya lepas KB implan ketika jadwal Safari. Namun karena belum waktunya bongkar, saya hanya mengiyakan informasi tersebut. 

“Mbak pasti bertambah gemuk ya?’ kali ini saya agak tertohok. Sejak tiga setengah tahun yang lalu saya memasang susuk, terhitung saya hanya naik 3 kg. Meski ada yang bilan KB susuk bikin kurus ternyata tidak terlalu berlaku untuk saya. Setidaknya tidak terlalu ekstrim seperti kalau KB suntik yang botabene kebanyakan pertambahan BB bisa drastis. Untuk ukuran tinggi badan 155 cm dan berat badan 47, rasanya belum bisa dibilang saya gemuk bukan? Mulai baper, hahaha

Si tenaga medis muda pun ngeles, “Ini dalam sekali letaknya.” Saya bergumam, bisa jadi karena faktor tenaga medis yang memasangnya dulu, bukan karena saya bertambah gemuk. Meski ada kemungkinan juga kalau letak kb implan bergeser.

Tenaga medis yang berpakaian biasa lalu mengambil alih tindakan. Saya mulai meringis karena merasa sayatan yang perih. Seusai konfirmasi rasa sakit yang saya rasakan, rupanya tenaga medis yang satunya menambahkan suntikan bius hingga kembali lengan saya mati rasa.

“Sudah tidak berasa sakit khan?”, tanya beliau sambil tersenyum. Saya mengangguk dan mengapresiasi sikap beliau yang bisa meredam saya yang mulai gemas karena tak kunjung usai. Perasaan gemas pun dirasakan  tenaga medis. Total akhirnya ada 4 orang yang menangani saya.
“Betul, ini dia!”, setengah bersorak mereka merayakan pencapaian tenaga medis yang ternyata adalah dokter. Rupanya mereka berhasil mencabut salah satu dari batang susuk yang terpasang. Masih ada satu lagi saudara-saudara, perjuangan belum usai.

Si dokter beralih menangani pasien lainnya. Ada salah seorang anak yang terpaksa diamputasi jarinya karena iseng memasukkan jari-jarinya ke gigi roda sepeda motor. Hari itu jadwal ia kontrol untuk melepas jahitan. Tindakan yang dilakukan tanpa bius itu membuahkan tangisan yang menyayat hati. Saya yang sedang ditangani kembali oleh tenaga medis muda yang lagi-lagi terlihat kesulitan membongkar batang susuk yang satunya membuat saya semakin miris.

“Tenang ya mbak, dikit lagi.” tenaga medis yang satunya mencoba  menghibur saya. “Muka embak sampai pucat begitu.”

Bagaimana tidak pucat jika situasi ruangan tak lagi kondusif dan saya mulai merasa kebas di seluruh tubuh. Belum lagi rasa sakit yang mulai menjalar. Tanpa konfirmasi, suntikan bius dilakukan untuk ketiga kalinya. Hal ini yang sempat saya takutkan hingga tak langsung lepas KB implan ketika masa penggunaannya habis mulai bulan Juli 2018 kemarin.

Berbarengan dengan selesainya tidakan pada anak kecil yang kontrol jahitan, akhirnya pembongkaran KB implan saya selesai. Si tenaga medis muda yang berhasil menemukannya itu menunjukkan saya batang KB implan yang seperti batang platik putih dengan gemas. Saya jadi tertawa lega melihatnya.

Saya melirik ke arah lengan. Terlihat dua lubang merah yang menganga. 

“Dijahit satu ya mbak.” ijin tenaga medis muda sembari mengulur benang jahit. Saya mengangguk tanpa memalingkan muka. Sembari menjahit, tenaga medis itu menjelaskan bahwa nantinya luka itu akan sembuh dengan pembentukan daging baru. Tak berapa lama, luka dengan satu jahitan tertoreh di lengan saya. Setelah memastikan saya tidak merasa pusing dan sanggup berdiri, saya dipersilahkan menuju kasir.

Kasir memberikan tagihan sebesar Rp80.000,- dengan rincian Rp50.000 untuk biaya lepas kb implant dan Rp 30.000 untuk tiga jenis obat yang harus saya minum 3 kali sehari. Terus terang, saya heran dengan biaya yang murah untuk tindakan yang menurut saya membutuhkan waktu lama dan kesabaran ekstra. Rupanya biaya lepas kb implan di bidan pun tidak jauh berbeda.

Usai melunasi pembayaran biaya lepas kb implant berikut tambahan tagihan jajanan Sita yang ikut mengantar bersama ibu, saya mendapatkan obat dari tenaga medis yang senior. Tak hanya menginformasikan jadwal minum obat, beliau juga menambahkan bahwa nantinya 3 hari kedepan saya harus kontrol. Jika nantinya ada lebam biru, saya diingatkan untuk tidak perlu panik. Itu wajar dan akan hilang sendirinya. Tidak perlu membesar-besarkan hingga mengabarkan di media sosial. Sepertinya ada pasein yang kurang paham dan langsung protes dengan cara membuat postingan di media sosial. Bisa jadi viral karena si tenaga medis sampai tahu. Saya jadi teringat pengalaman menangani anak-anak yang drop ketika latihan Paskibraka dan dirujuk ke PKU tersebut. Memang kurang sebenarnya dalam hal pelayanan. Namun seharusnya, itu sudah menjadi pembelajaran bagi mereka untuk meningkatkan pelayanan.

Saya pun pulang dengan lengan dibalut perban dan perasaan lega bahwa saya sudah terbebas dari efek samping implan di kemudian hari. Satu tahun terakhir memang saya mengalami jadwal menstruasi yang berantakan. Menurut informasi tenaga medis sebelumnya, itu merupakan tanda tidak cocok kb implant. Semoga juga tidak efek samping setelah lepas KB susuk yang buruk. Aamiin.


Thursday, August 16, 2018

5 Cara Meninggalkan Anak Dalam Waktu Lama Tanpa Drama

August 16, 2018 0
5 Cara Meninggalkan Anak Dalam Waktu Lama Tanpa Drama

Nota kesepahaman telah saya terima melalui email. File dalam format .pdf berjumlah 10 lembar tersebut berisi tentang informasi dan ketentuan mengikuti  Akademi Kewirausahaan Masyarakat Universitas Gajah Mada (AKM UGM) 2018. Sebelumnya, saya memang mengisi formulir pendaftaran online untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tak disangka, saya lolos menjadi salah satu dari 100 peserta gelombang pertama dari 1200an aplikasi yang masuk. Itu artinya saya harus mengikuti kegiatan karantina selama 10 hari 9 malam, terhitung dari tanggal  19-29 Juli 2018 di Yogyakarta.
Lalu, bagaimana dengan anak-anak?

Memiliki 2 anak berusia balita memang memberikan konsekuensi bagi seorang perempuan untuk berfikir 100 kali ketika harus menginap tanpa anak-anak. Selama ini, saya lebih sering membawa anak-anak ketika ada urusan pekerjaan atau sekedar jalan-jalan. Bahkan, meski harus keluar kota sekalipun saya sering mengajak mereka.

Sebenarnya, saya sudah pernah meninggalkan anak dalam waktu lama tanpa drama ketika baru beranak 1. Anak pertama saya yang notabene cucu pertama bagi kedua orang tua saya membuatnya lebih dekat dengan kakek neneknya. Ketika saya harus menjaga pameran di Semarang selama 7 hari, saya menitipkannya pada kakek nenek. Kedua orang tua saya juga menyanggupi menjaga anak saya yang kala itu berusia 1,5 tahun. Lagipula, anak laki-laki saya juga sudah tidak menyusui sejak usia 8 bulan. Tanpa ba bi bu, kegiatan saya berjalan lancar tanpa ada halangan.

Kini setelah selang 4 tahun dan saya telah memiliki dua anak, saya kembali harus keluar kota dalam waktu lama. Lebih lama dari sebelumnya. Permasalahannya, anak kedua saya tipikal anak yang sangat menempel pada ibunya. Tak seperti anak pertama yang layaknya anak bungsu bagi kedua orang tua saya, anak kedua benar-benar dalam pengasuhan saya sejak lahir. Terlebih lagi, anak kedua saya berjenis perempuan. Di usianya yang memasuki usia 4 tahun, terkadang ia bisa merajuk ketika saya meninggalkannya dalam waktu lama. Pernah ketika seharian saya meninggalkannya untuk bertemu klien di Jogja dan pulang malam harinya, terjadi dialog berikut.
“Ibu dari mana?’, tanya Arwa.
Ibu menjawab sambil tersenyum dan memeluknya, “Ibu kerja.”
Arwa balas memeluk dan mencium saya sembari berkata, “ndhelek (red: ndherek, dalam bahasa Jawa artinya ikut).
Momen tersebut terjadi beberapa kali karena memang saya sering harus keluar kota untuk menemui klien. Mengingat ia pernah jatuh sakit ketika saya ajak pulang pergi Klaten-Jogja untuk menemui klien, saya memang memilih untuk menitipkannya pada orang tua saya. Kakek neneknya juga lebih menyarankan saya untuk meninggalkan anak ketika keluar kota semenjak anak kedua sudah tidak menyusui. Berbeda dengan kakaknya, anak kedua saya menyusui hingga usia 2,5 tahun. Terbayang bukan bagaimana lengketnya dia dengan saya.

Kembali tentang bagaimana cara meninggalkan anak dalam waktu lama tanpa drama, ada beberapa langkah yang saya lakukan sebelum hari H.

1. Koordinasi dengan pengasuh atau penjaga
Ketika dinyatakan lolos, saya meminta ijin terlebih dahulu pada kedua orang tua saya. Hanya beliau berdualah andalan saya. Jika beliau tidak berkenan, saya tak akan ragu untuk mengundurkan diri. Namun ternyata orang tua saya mendukung penuh, bahkan memastikan saya mengikuti  kegiatan tersebut. Saya lalu merencanakan bagaimana nanti pola pengasuhan anak-anak saya, terutama dengan bapak karena beliau yang lebih banyak berinteraksi nantinya.

2. Membiasakan anak untuk berinteraksi lebih banyak dengan orang sekitar
Sebelum berangkat, saya juga memberi tahu orang-orang disekitar saya terutama saudara dan tetangga. Tak disangka, mereka pun ikut mendukung. Mereka jadi lebih sering mengajak anak-anak untuk membiasakan diri agar anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan orang lain. Sepulang dari karantina, saya banyak mendapatkan informasi dan pujian akan anak-anak saya yang sangat kooperatif.

3. Meningkatkan kualitas pertemuan dibanding kuantitas
Jika sebelumnya saya sering kali mengasuh anak sembari mengerjakan pekerjaan baik pekerjaan rumah tangga atau urusan usaha, saya memilih untuk lebih fokus membersamai mereka. Terutama ketika pagi ketika anak-anak baru bangun dan juga malam hari selepas maghrib. 

4. Memberi pengertian
Pengertian yang saya sampaikan adalah lebih pada pemahaman bahwa saya perlu bekerja. Saya memberi contoh beberapa jenis pekerjaan yang membuat seseorang tidak selalu bisa bersama keluarganya. Tentunya saya menyampaikannnya dalam bentuk cerita ringan sembari menunjukkan gambar-gambar mengingat anak-anak masih balita. Saya baru mengetahui bahwa cara meninggalkan anak dalam waktu lama tanpa drama ini berhasil karena ketika saya pulang, mereka membahas kembali cerita tentang profesi yang sempat saya sampaikan sebelumnya pada anak-anak.

5. Membawa buah tangan yang disukai atau sudah lama diinginkan oleh anak
Saya memasang telinga untuk mengetahui apa kiranya yang diinginkan anak-anak. Bisa ditebak, mainan lah yang menjadi wishlist mereka. Sebelum berangkat, saya menyempatkan diri untuk membeli sesuatu yang kiranya menyenangkan hati anak-anak dan menyimpannya terlebih dahulu. Ketika pulang, saya memberikannya pada anak-anak. Ini juga memberi pengertian pada anak-anak bahwasanya saya bekerja untuk mereka.

Saya akhirnya bisa menjalani masa karantina AKM UGM 2018 dengan lancar, bahkan masuk dalam kelompok terbaik. Selama karantina, ada beberapa momen yang membuat saya rindu dan teringat anak-anak. Ternyata anak saya sempat demam semalaman di hari ketiga. Kedua orang tua saya memang sengaja tidak memberitahu karena tidak parah. Sedangkan anak laki-laki saya mendadak sering menanyakan saya di hari-hari terakhir.

Jadwal diklat berakhir tanggal 28 Juli 2018 pukul 23.00 WIB. Lokasi diklat yang hanya berjarak 45 menit dari rumah membuat saya memutuskan untuk  membawa sepeda motor sendiri ketika berangkat diklat. Oleh karenanya, saya memilih untuk pulang terlebih dahulu sebelum subuh keesokan harinya. Saya berharap bisa sampai dirumah sebelum anak-anak bangun. Tepat seperti harapan saya, anak kedua saya bangun ketika saya baru parker motor di garasi. Ia pun berlari mendekap saya dan kembali melancarkan rayuan “ndhelek”-nya. Saya tertawa hingga membuat anak pertama saya bangun. Kami berpelukan bertiga dan saya berterima kasih karena telah bekerja sama dengan baik. Sebagai imbalannya, anak-anak mengajak saya “piknik” seharian. Saya pun menjawab, “SIAP!” sembari hormat dan tersenyum. Kami tertawa bersama, senangnya berkumpul lagi.

Sunday, October 8, 2017

Tips Menjaga Kesehatan Kulit Bayi dan Anak dengan Lactacyd Baby

October 08, 2017 0
Tips Menjaga Kesehatan Kulit Bayi dan Anak dengan Lactacyd Baby
Ada yang pernah mendengar istilah “kulit kentang”? Saya sangat akrab dengan istilah itu sejak kecil. Ibu saya sendiri yang sering mengucapkan. Penyebabnya adalah kulit saya yang sangat mudah terkena iritasi. Serangga dan keringat menjadi musuh terbesar kulit saya. Kulit menjadi mudah gatal dan ketika digaruk atau bahkan diusap-usap saja bisa lecet. Akhirnya kulit saya seperti kain motif polkadot, terutama kaki, huhu

Tak disangka tipe kulit kentang saya menurun pada kedua anak saya. Mudahnya kulit Al terkena iritasi membuatnya agak sulit beradaptasi dengan diaper. Sebagian besar merek diaper akan menimbulkan ruam popok. Akhirnya saya sangat menghindari penggunaan popok sekali pakai.

Wednesday, August 30, 2017

Mendulang Untung Dari Bisnis Jual Beli Buku-Buku Sale

August 30, 2017 0
Mendulang Untung Dari Bisnis Jual Beli Buku-Buku Sale

Perkara jual beli buku sudah tidak asing untuk saya. Bisa dibilang awal karir saya terjun di dunia jual beli dengan menjual buku digital. Tidak tanggung-tanggung, harganya berkisar dua ratus ribu keatas. Kini, sepertinya tren buku harga premium tersebut kembali naik daun. Bedanya, produk buku tersebut hadir dalam buku fisik. Salah satunya buku terbitan Billionaire Store dimana saya menjadi salah satu resellernya. Meski hanya sebagai sambilan, keuntungan menjual buku yang saya promosikan melalui internet bisa mencapai angka jutaan rupiah.

Sunday, August 27, 2017

Seluk Beluk Pemotretan Foto Produk Bagian 2, Tips Fotografi Produk Fashion Hijab

August 27, 2017 0
 Seluk Beluk Pemotretan Foto Produk Bagian 2, Tips Fotografi Produk Fashion Hijab

Beberapa saat yang lalu, saya membahas tentang seluk beluk pemotretan produk mukena. Pasca lebaran, permintaan produk mukena tidak setinggi sebelumnya. Ada penurunan yang bisa di bilang sangat drastis. Itulah sebabnya saya lalu memutuskan untuk menambahkan jenis produk yang masih sejalan dengan target market para reseller saya.Tidak tanggung-tanggung, saya membuat lini produksi hijab dengan merek sendiri. Seperti saat memutuskan untuk berjualan produk mukena, untuk fashion hijab saya juga memilih jenis bahan berdasarkan data target pasar yang saya ketahui. Lain kali akan saya bahas proses saya memiliki merek produk fashion hijab sebagai insipirasi bagi teman-teman yang ingin terjun ke dunia produksi.

Baca juga: Seluk Beluk Pemotretan Foto Produk Bagian 1, Tips Memotret Produk Dengan Smartphone

Thursday, August 24, 2017

Kiat Menjadi Ibu Yang Bahagia

August 24, 2017 1
Kiat Menjadi Ibu Yang Bahagia
Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had, and dealing with fears you didn’t know existed.
~ Linda Wooten
Saya tidak pernah menyangka bahwa ketika memasuki dunia ibu itu sesungguhnya seperti memasuki dunia amfibi, dunia yang penuh kasih sayang namun sekaligus kejam penuh cobaan. Bagaimana tidak, ketika sedang bahagianya menimang bayi, sudah ada segala macam hal yang jika tidak sama atau sesuai standar maka siap-siap saja ada lambe-lambe turah yang nyinyir. Hanya karena saya melahirkan normal di klinik bersalin yang biayanya dua kali lipat dibanding di klinik lainnya, saya dianggap ibu yang boros. Ketika saya memutuskan untuk tidak bekerja di luar rumah untuk mengurus bayi, saya dianggap tidak sayang dengan perjuangan orang tua  membiayai sekolah hingga sarjana. Dan setiap masa akan ada bahan untuk sindiran, seperti tidak ada henti dan habis-habisnya.


Lalu, apakah menjadi ibu itu sulit untuk menjadi bahagia?

Monday, August 21, 2017

Seluk Beluk Pemotretan Foto Produk Bagian 1, Tips Memotret Produk Dengan Smartphone

August 21, 2017 0
Seluk Beluk Pemotretan Foto Produk  Bagian 1, Tips Memotret Produk Dengan Smartphone

Seberapa sering teman-teman tertarik membeli produk karena foto katalognya?  Mengingat perkembangan dunia jual beli online saat ini, terbukti bahwa hanya mengandalkan foto produk saja sudah menarik minat untuk transaksi. Bahkan ketertarikan sesorang terhadap sesuatu karena foto produk bisa menumbuhkan rasa percaya pada penjual yang belum dikenal sekalipun. Namun ternyata dibalik foto produk yang kece itu ada perjuangan yang tidak mudah dan murah. Bagi yang memiliki modal besar bisa menggunakan jasa pemotretan produk. Namun untuk produsen atau penjual modal pas-pasan seperti saya, seperti apa perjuangannya?