5 Cara Meninggalkan Anak Dalam Waktu Lama Tanpa Drama - Fenny Ferawati

Thursday, August 16, 2018

5 Cara Meninggalkan Anak Dalam Waktu Lama Tanpa Drama


Nota kesepahaman telah saya terima melalui email. File dalam format .pdf berjumlah 10 lembar tersebut berisi tentang informasi dan ketentuan mengikuti  Akademi Kewirausahaan Masyarakat Universitas Gajah Mada (AKM UGM) 2018. Sebelumnya, saya memang mengisi formulir pendaftaran online untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tak disangka, saya lolos menjadi salah satu dari 100 peserta gelombang pertama dari 1200an aplikasi yang masuk. Itu artinya saya harus mengikuti kegiatan karantina selama 10 hari 9 malam, terhitung dari tanggal  19-29 Juli 2018 di Yogyakarta.
Lalu, bagaimana dengan anak-anak?

Memiliki 2 anak berusia balita memang memberikan konsekuensi bagi seorang perempuan untuk berfikir 100 kali ketika harus menginap tanpa anak-anak. Selama ini, saya lebih sering membawa anak-anak ketika ada urusan pekerjaan atau sekedar jalan-jalan. Bahkan, meski harus keluar kota sekalipun saya sering mengajak mereka.

Sebenarnya, saya sudah pernah meninggalkan anak dalam waktu lama tanpa drama ketika baru beranak 1. Anak pertama saya yang notabene cucu pertama bagi kedua orang tua saya membuatnya lebih dekat dengan kakek neneknya. Ketika saya harus menjaga pameran di Semarang selama 7 hari, saya menitipkannya pada kakek nenek. Kedua orang tua saya juga menyanggupi menjaga anak saya yang kala itu berusia 1,5 tahun. Lagipula, anak laki-laki saya juga sudah tidak menyusui sejak usia 8 bulan. Tanpa ba bi bu, kegiatan saya berjalan lancar tanpa ada halangan.

Kini setelah selang 4 tahun dan saya telah memiliki dua anak, saya kembali harus keluar kota dalam waktu lama. Lebih lama dari sebelumnya. Permasalahannya, anak kedua saya tipikal anak yang sangat menempel pada ibunya. Tak seperti anak pertama yang layaknya anak bungsu bagi kedua orang tua saya, anak kedua benar-benar dalam pengasuhan saya sejak lahir. Terlebih lagi, anak kedua saya berjenis perempuan. Di usianya yang memasuki usia 4 tahun, terkadang ia bisa merajuk ketika saya meninggalkannya dalam waktu lama. Pernah ketika seharian saya meninggalkannya untuk bertemu klien di Jogja dan pulang malam harinya, terjadi dialog berikut.
“Ibu dari mana?’, tanya Arwa.
Ibu menjawab sambil tersenyum dan memeluknya, “Ibu kerja.”
Arwa balas memeluk dan mencium saya sembari berkata, “ndhelek (red: ndherek, dalam bahasa Jawa artinya ikut).
Momen tersebut terjadi beberapa kali karena memang saya sering harus keluar kota untuk menemui klien. Mengingat ia pernah jatuh sakit ketika saya ajak pulang pergi Klaten-Jogja untuk menemui klien, saya memang memilih untuk menitipkannya pada orang tua saya. Kakek neneknya juga lebih menyarankan saya untuk meninggalkan anak ketika keluar kota semenjak anak kedua sudah tidak menyusui. Berbeda dengan kakaknya, anak kedua saya menyusui hingga usia 2,5 tahun. Terbayang bukan bagaimana lengketnya dia dengan saya.

Kembali tentang bagaimana cara meninggalkan anak dalam waktu lama tanpa drama, ada beberapa langkah yang saya lakukan sebelum hari H.

1. Koordinasi dengan pengasuh atau penjaga
Ketika dinyatakan lolos, saya meminta ijin terlebih dahulu pada kedua orang tua saya. Hanya beliau berdualah andalan saya. Jika beliau tidak berkenan, saya tak akan ragu untuk mengundurkan diri. Namun ternyata orang tua saya mendukung penuh, bahkan memastikan saya mengikuti  kegiatan tersebut. Saya lalu merencanakan bagaimana nanti pola pengasuhan anak-anak saya, terutama dengan bapak karena beliau yang lebih banyak berinteraksi nantinya.

2. Membiasakan anak untuk berinteraksi lebih banyak dengan orang sekitar
Sebelum berangkat, saya juga memberi tahu orang-orang disekitar saya terutama saudara dan tetangga. Tak disangka, mereka pun ikut mendukung. Mereka jadi lebih sering mengajak anak-anak untuk membiasakan diri agar anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan orang lain. Sepulang dari karantina, saya banyak mendapatkan informasi dan pujian akan anak-anak saya yang sangat kooperatif.

3. Meningkatkan kualitas pertemuan dibanding kuantitas
Jika sebelumnya saya sering kali mengasuh anak sembari mengerjakan pekerjaan baik pekerjaan rumah tangga atau urusan usaha, saya memilih untuk lebih fokus membersamai mereka. Terutama ketika pagi ketika anak-anak baru bangun dan juga malam hari selepas maghrib. 

4. Memberi pengertian
Pengertian yang saya sampaikan adalah lebih pada pemahaman bahwa saya perlu bekerja. Saya memberi contoh beberapa jenis pekerjaan yang membuat seseorang tidak selalu bisa bersama keluarganya. Tentunya saya menyampaikannnya dalam bentuk cerita ringan sembari menunjukkan gambar-gambar mengingat anak-anak masih balita. Saya baru mengetahui bahwa cara meninggalkan anak dalam waktu lama tanpa drama ini berhasil karena ketika saya pulang, mereka membahas kembali cerita tentang profesi yang sempat saya sampaikan sebelumnya pada anak-anak.

5. Membawa buah tangan yang disukai atau sudah lama diinginkan oleh anak
Saya memasang telinga untuk mengetahui apa kiranya yang diinginkan anak-anak. Bisa ditebak, mainan lah yang menjadi wishlist mereka. Sebelum berangkat, saya menyempatkan diri untuk membeli sesuatu yang kiranya menyenangkan hati anak-anak dan menyimpannya terlebih dahulu. Ketika pulang, saya memberikannya pada anak-anak. Ini juga memberi pengertian pada anak-anak bahwasanya saya bekerja untuk mereka.

Saya akhirnya bisa menjalani masa karantina AKM UGM 2018 dengan lancar, bahkan masuk dalam kelompok terbaik. Selama karantina, ada beberapa momen yang membuat saya rindu dan teringat anak-anak. Ternyata anak saya sempat demam semalaman di hari ketiga. Kedua orang tua saya memang sengaja tidak memberitahu karena tidak parah. Sedangkan anak laki-laki saya mendadak sering menanyakan saya di hari-hari terakhir.

Jadwal diklat berakhir tanggal 28 Juli 2018 pukul 23.00 WIB. Lokasi diklat yang hanya berjarak 45 menit dari rumah membuat saya memutuskan untuk  membawa sepeda motor sendiri ketika berangkat diklat. Oleh karenanya, saya memilih untuk pulang terlebih dahulu sebelum subuh keesokan harinya. Saya berharap bisa sampai dirumah sebelum anak-anak bangun. Tepat seperti harapan saya, anak kedua saya bangun ketika saya baru parker motor di garasi. Ia pun berlari mendekap saya dan kembali melancarkan rayuan “ndhelek”-nya. Saya tertawa hingga membuat anak pertama saya bangun. Kami berpelukan bertiga dan saya berterima kasih karena telah bekerja sama dengan baik. Sebagai imbalannya, anak-anak mengajak saya “piknik” seharian. Saya pun menjawab, “SIAP!” sembari hormat dan tersenyum. Kami tertawa bersama, senangnya berkumpul lagi.

No comments:

Post a Comment